Posts

Catatan Anak Sakit

Hal paling menantang saat punya bayi adalah ketika dia sakit. Dia jadi rewel, tidak bisa tidur, nafsu makan hilang, dan berat badan turun. Ya sama juga dengan orang dewasa. Saat sakit nggak selera makan, lemas, nggak bisa tidur dan maunya ditemani. Aku ingat bapakku itu kalau sakit merengek-rengek loh, panggil panggil mamakku terus, Maunya dipijitin dan ditemani. wkwkkww.  Yang paling bikin kesal adalah ketika dia tidak mau makan pasca sakit. Repotnya minta ampun. Bolak balik masak tapi berakhir di tong sampah.  Sebenarnya sakit bayi itu berulang di seputar batpil dan diare saja bisa disertai demam bisa juga tidak. B pertama kali mengalami sakit yang lumayan menyita energi adalah diare di akhir Desember lalu. Diarenya tidak terlalu parah sih, pup paling 2x sehari tapi dia terlihat mual, beberapa kali muntah setelah minum ASI. Tapi nafasu makannya lumayan lama membaik. Saat itu aku menduga dia tidak nafsu makan bukan karena diarenya tapi ada penyebab lain. Aku menonton, membaca banyak s

Berada Di Titik Nol Sabang

Image
Anak-anakku sudah sangat akrab dengan lagu Dari Sabang Sampai Merauke. Lagu ciptaan R. Suharjo ini memberi gambaran singkat Indonesia itu seperti apa. Anak-anak jadi terpantik membuka atlas, mencari di mana Sabang dan di mana Merauke.  Semasa sekolah aku merasa Sabang itu sebuah tempat yang jauh, tempat yang hanya kuketahui lewat lagu dan peta. Tidak punya bayangan tempat seperti apa itu. Kemudian berbagai informasi dengan tidak sengaja terbaca mengenai Sabang. Di situ ada tugu nol kilometer sebagai penanda ujung paling barat Indonesia. Di situ juga ada pantai yang indah dan jernih. Saking jernihnya kita bisa melihat ikan-ikan berenang di dalamnya.  Kami ingin ke sana tapi bayanganku tempat itu hanya dapat dijangkau dengan pesawat. Kami pun merencanakan perjalanan via udara. Tapi setelah mengecek harga tiket, ternyata lumayan juga harganya untuk lima orang.  Kenapa tidak lewat darat saja? Begitulah kami kemudian memutuskan ke Sabang menggunakan mobil. Memang kami sudah sering melihat b

Perjalanan ke Tiga Ras, Parbaba, Sibea-bea dan Silimalombu

Image
Saat ini aku sedang menantikan kelahiran anak ketiga. Badan sudah terasa berat, mudah merasa lelah, sesekali kecemasan datang menghampiri. Ingin si bayi lekas-lekas keluar agar segera lepas dari ketidaknyamanan ini meskipun ketidaknyamanan lain sudah menunggu.  Aku jelas mengatakan bahwa hamil, melahirkan dan mengurus bayi adalah proses yang tidak nyaman. Aku tidak mau membohongi diriku dengan mengatakan bahwa itu semua nyaman dan kunikmati.  Lalu kenapa mau hamil kalau begitu, toh itu kan pilihanmu?  Ya. Aku memilih jalan ketidaknyaman agar bertumbuh karena pertumbuhan hanya dihasilkan dari kesulitan.  Kesulitan yang sedang kuhadapi saat ini adalah berdamai dengan kondisi fisik dan mental dan berusaha menjaga agar fisik dan mentalku tetap sehat. Dan bersyukur aku masih bisa bertahan hingga hari ini. Ya. Hari ini aku merasa segar setelah berkebun selama satu jam, jalan kaki dua puluh menit hingga berkeringat, lalu mandi. Pikiranku juga bisa diajak kerja sama untuk menulis setelah sekia

Adiksi & Minimalisme Digital

Kabar bahwa Steve Job, sebagai pendiri Apple, justru melarang anak-anaknya menggunakan Ipad sudah sering terdengar. Bukan hanya dia, banyak orang-orang yang besar di bidang teknologi malah membatasi diri dan anak-anaknya menggunakan produk teknologi.  Mereka sadar teknologi tidak sepenuhnya memberi manfaat sehingga penggunaanya harus dibatasi.  Teknologi terkini yang hampir setiap orang miliki adalah smartphone . Di dalamnya beragam aplikasi tersedia, baik yang memudahkan hidup maupun sebagai hiburan.  Tentu saja kita tidak bisa memungkiri bahwa hidup ini banyak terbantu karena adanya berbagai aplikasi di hape. Tapi fakta lain juga bicara bahwa banyak orang kini kecanduan digital.  Seseorang bisa disebut candu jika dia tidak bisa menyuruh dirinya berhenti dalam jangka waktu yang lama menyebabkan tugas-tugas lainnya terganggu. Dia juga akan merasa menderita ketika tidak menggunakannya. Ini terjadi karena sumber kesenangannya hilang. Dia akan mencari dan berupaya mendapatkan kembali kese

Melatihkan Habit of Atention Pada Anak Usia Akademis

Anak-anak usia dini yang diberi ruang untuk memilih sendiri kegiatannya dan tidak banyak dicampuri oleh orangtua akan terlatih menentukan apa yang dia mau dan fokus menggarap hingga maunya itu tercapai.  Namun memasuki usia akademis, seorang anak tidak bisa hanya sekadar fokus terhadap apa yang dia minati. Dia juga harus mampu mengerahkan atensinya menyelesaikan tanggung jawab meskipun itu tidak ia sukai.  Meskipun di usia dini anak diberi kebebasan bereskplorasi, dia juga harus dilatih untuk tunduk pada aturan yang dibuat berdasarkan prinsip. Kebiasaan taat dan kebiasaan fokus musti dilatih beriringan sehingga ketika memasuki usia akademis anak terbiasa taat pada kewajiban yang diberikan kepadannya.  Tapi mengarahkan atensi untuk hal yang tidak diminati itu tidak mudah, anak harus dilatih perlahan-lahan. Hal utama yang harus diingat adalah rentang atensi anak masih pendek. Ahli menyebutkan untuk anak usia SD rentang atensinya paling lama 10-15 menit. CM juga menyarankan sesi akademis

Melatihkan Habit of Attention Pada Anak-anak Di Bawah 6 Tahun

Rentang atensi anak-anak sangat rendah oleh karena itu orangtua sebaiknya melatihkan kebiasaan fokus sejak dini.  Anak kecil biasanya dengan mudah nge- flow dalam melakukan sesuatu jika dia meminatinya. Jika anak sudah mengambil satu mainan dan asyik memainkannya orangtua jangan menginterupsi dengan menawarkan mainan lain, bahkan jika anak terlihat mulai mengalihkan fokus kepada hal lain, lakukan sesuatu agar fokusnya kembali kepada mainan sebelumnya. Ini membantu anak terbiasa fokus menggarap satu hal dalam rentang waktu yang lebih lama.  Agar anak menemukan apa yang dia minati, orangtua perlu memberi kebebasan kepada anak untuk menentukan sendiri kegiatannya. Orangtua berjarak tapi tetap memperhatikan dari jauh kalau-kalau anak butuh bantuan. Tidak perlu membuatkan anak jadwal kegiatan yang kaku dan jangan terlalu banyak melarang.  Ketika melihat gawai anak-anak terlihat fokus tapi sebetulnya otak mereka sedang pasif. Berbeda jika mereka fokus bermain sesuatu yang nyata. Otak anak a

Menyegarkan Atensi

Atensi butuh energi. Sama seperti otot akan merasa kelelahan jika terus menerus mengangkat beban berat, otak juga akan kelelahan jika terus menerus fokus. Apalagi jika fokus kita sering diinterupsi. Setiap kali fokus teralihkan oleh distraksi lalu kembali lagi ke tugas sebelumnya, otak memerlukan energi lebih banyak dibanding fokus mendalam pada satu tugas dalam durasi waktu tertentu. Oleh karena itu, menjauhkan segala bentuk distraksi sangat penting agar energi tidak terkuras habis padahal garapan tidak terselesaikan dengan baik.  Meski begitu, rentang fokus kita memang terbatas. Seorang yang menekuni satu bidang seperti atlet dan seniman bisa fokus hingga 4 jam tanpa henti, sedangkan orang biasa maksimal fokusnya 1 jam saja. Memaksa diri terus bekerja bertentangan dengan pembentukan habit of attention . Jika ingin tetap produktif justru kerja harus diimbangi dengan istirahat.  Kita membutuhkan istirahat berkala yakni setiap 1 jam setelah fokus mendalam, dengan mengambil jeda 15 menit